PENDAHULUAN
Latar Belakang
terus dilakukan oleh berbagai negara seperti Jepang, Korea, Taiwan, Philipina, Amerika dan negara-negara Eropa.Di Indonesia penelitian jamur kuping dimulai sekitar tahun 1970-an. Umumnya taraf penelitian baru dalam taraf mempelajari pengaruh substrat dan lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tubuh buah jamur. Beberapa peneliti mengaitkan jamur dengan usaha pemanfaatan limbah kehutanan dan pertanian serta bahan-bahan lain dengan tujuan untuk peningkatan nilai tambah kayu hasil reboisasi dan penghijauan serta untuk penciptaan lapangan kerja baru disamping untuk perbaikan gizi masyarakat petani. Pemanfaatan jamur budidaya diperkirakan memberi prospek cerah karena substrat jamur baik berupa serbuk gergaji maupun kayu sisa tebangan penyiapan lahan dapat dimanfaatkan secara maksimal disamping jamur kuping mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Dalam desakan permintaan jamur kuping dari negara-negara tetangga yang semakin besar perlu dipertimbangkan berbagai alternatif cara memenuhi permintaan tersebut khususnya dari segi teknologi budidaya. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan pemakaian substrat bukan dari serbuk gergaji saja tetapi juga dari log. Kalau selama ini budidaya jamur kuping hanya dilakukan di bawah atap atau di dalam pondok jamur, maka produksi massal didalam tegakan hutan atau tanaman, dapat dilakukan dengan biaya dengan mengurangi atau meniadakan biaya pondok jamur yang besar. Kultivasi jamur kuping di bawah tegakan akan menjadi alternatif yang tepat mengingat sifat tumbuh jamur kuping di alam terbuka sangat sesuai pada tempat yang lembab seperti di kebun, pekarangan, talun atau tegakan hutan. Keberhasilan pengembangan budidaya jamur kuping dibawah tegakan misalnya dibawah tegakan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang telah berkembang pesat di Indonesia sekarang, akan dapat menjawab permintaan pasar dalam dan luar negeri dalam jumlah yang cukup. Kayu afrika (Maesopsis eminii Engl.) merupakan salah satu jenis kayu yang sudah umum ditanam masyarakat dan, banyak digunakan untuk kayu bakar. Beberapa industri pulp dan kertas telah memanfaatkan kayu afrika ini untuk pulp dan kertas. Penggunaan kayu afrika sebagai substrat jamur kuping merupakan alternatif untuk meningkatkan nilai guna jenis kayu tersebut. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan jamur kuping pada substrat log dari kayu afrika yang dikultivasi di bawah tegakan hutan sebagai landasan teknologi tepat guna dan berhasil guna dalam wirausaha budidaya jamur kuping.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di laboratorium Patologi Hutan dan di Arboretum Fakultas Kehutanan Darmaga, Bogor, selama lebih kurang 5 bulan, mulai bulan Juli 1999 sampai dengan November 1999.
Pemotongan dan pengeringan
Log substrat yang digunakan diambil dari batang pohon kayu afrika asal hutan Tridharma Gunung Walat dan diameter 19 – 25 cm yang dipotong-potong sepanjang 60 cm sebanyak 40 potong terdiri dari 20 potong contoh uji yang diberi perlakukan tanpa pengeringan (kayu segar) dan 20 potong contoh uji lainnya dikeringkan. Pengeringan contoh uji tersebut dilakukan dengan menjemur di tempat yang terbuka sehingga terkena
langsung sinar matahari. Tujuan dari pengeringan ini adalah untuk mematikan sel-sel kayu, memusnahkan jamur yang tidak dikehendaki dan juga mempercepat proses pelapukan. Pengeringan ini dilakukan tiap hari selama dua bulan. Perlakuan tanpa pengeringan yaitu setelah batang-batang kayu dipotong-potong kemudian ditiriskan di laboratorium sehingga air di dalam kayu mengalir ke luar.
Perendaman
Contoh uji yang telah dikeringkan kemudian direndam selama 3 hari. Perendaman ini dimaksudkan agar air betul-betul meresap ke dalam kayu, sehingga miselium jamur kuping yang diharapkan bisa mencapainya, sehingga kontaminasi atau pertumbuhan jamur yang tidak diinginkan dapat dikurangi atau ditiadakan.
Pemboran Kayu
Pada semua log contoh uji dibuat lubang dengan menggunakan bor listrik yang telahldidesinfestasi terlebih dahulu. Diameter lubang bor lebih kurang 1,2 cm dengan kedalaman 3–4 cm. Lubang dibuat secara melingkar sekeliling kayu. Lubang-lubang itu diusahakan tidak saling bertemu dan jarak antar lubang sekitar 10-15 cm. Pada setiap contoh uji, dibuat sama lebih kurang 25 lubang.
Inokulasi Jamur
Kedalam tiap lubang pada contoh uji selanjutnya ditempatkan bibit jamur kuping,
yaitu dengan cara memasukkan bibit tersebut dengan pinset secara aseptik. Tiap lubang yang telah diisi dengan bibit langsung ditutup dengan kapas.
yaitu dengan cara memasukkan bibit tersebut dengan pinset secara aseptik. Tiap lubang yang telah diisi dengan bibit langsung ditutup dengan kapas.
Inkubasi
Semua contoh uji yang telah diinokulasi, kemudian ditumpuk dengan posisi menyilang, selanjutnya diselimuti dengan plastik warna hitam , agar terjadi peningkatan suhu sekitar 25–28°C untuk mempercepat kolonisasi kayu oleh jamur. Lama penyelimutan dengan plastik dilakukan selama lebih kurang 18 hari.
Semua contoh uji yang telah diinokulasi, kemudian ditumpuk dengan posisi menyilang, selanjutnya diselimuti dengan plastik warna hitam , agar terjadi peningkatan suhu sekitar 25–28°C untuk mempercepat kolonisasi kayu oleh jamur. Lama penyelimutan dengan plastik dilakukan selama lebih kurang 18 hari.
Kultivasi dan Pemeliharaan
Setiap contoh uji yang telah diinkubasi kemudian ditumbuhkan (dikultivasi) di lantai dalam tegakan hutan serta sebagian lagi di dalam ruangan laboratorium. Log-log diletakkan pada sandaran bambu dengan sudut kemiringan lebih kurang 60°. Penyiraman dilakukan dua kali sehari untuk menjaga kelembaban yang diperlukan untuk pertumbuhan jamur kuping. Setelah dikultivasi selama 6 hari; tubuh buah jamur kuping sudah cukup waktu untuk dipanen.
Setiap contoh uji yang telah diinkubasi kemudian ditumbuhkan (dikultivasi) di lantai dalam tegakan hutan serta sebagian lagi di dalam ruangan laboratorium. Log-log diletakkan pada sandaran bambu dengan sudut kemiringan lebih kurang 60°. Penyiraman dilakukan dua kali sehari untuk menjaga kelembaban yang diperlukan untuk pertumbuhan jamur kuping. Setelah dikultivasi selama 6 hari; tubuh buah jamur kuping sudah cukup waktu untuk dipanen.
Pengamatan
Parameter yang diamati adalah berat segar tubuh buah jamur kuping sampai 5 kali masa panen. Pemanenan dilakukan tiap 6 hari sekali. Kadar air kayu ditentukan sebelum diinokulasi dan setelah penelitian selesai, waktu munculnya tubuh buah, suhu, kelembaban, nisbi udara dan intensitas cahaya dalam tegakan yang dianggap berpengaruh pada pertumbuhan jamur kuping. Pengamatan suhu dan kelembaban udara dilakukan pada pukul 07.00, 12.00 dan 17.00 tiap hari.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Mikroklimat di Dalam Tegakan Hutan Pohon-pohon yang tumbuh disekitar dan didalam lokasi penelitian antara lain pohon karet, eboni, laban, jeunjing, rambutan, pohon kupu-kupu, pohon durian, dan lain-lainnya. Suhu udara di lokasi penelitian selama penelitian berlangsung rata-rata pada pagi hari
(pukul 07.00), siang (12.00) dan sore (17.00) masing-masing : 23,7°C, 27,5°C dan 25,5°C. Kelembaban nisbi udara pada pagi hari (pukul 07. 00), siang (12.00) dan sore (17.00) masing-masing : 97%, 83% dan 91%. Pada waktu penelitian berlangsung hampir tiap sore atau malam hari turun hujan. Umumnya pagi hari cuaca cukup cerah namun batang contoh uji tidak terkena sinar matahari secara langsung, hanya memperoleh cahaya yang terpencar oleh tajuk yang sampai dibawah pohon, yang bermanfaat untuk perkembangan jamur.
(pukul 07.00), siang (12.00) dan sore (17.00) masing-masing : 23,7°C, 27,5°C dan 25,5°C. Kelembaban nisbi udara pada pagi hari (pukul 07. 00), siang (12.00) dan sore (17.00) masing-masing : 97%, 83% dan 91%. Pada waktu penelitian berlangsung hampir tiap sore atau malam hari turun hujan. Umumnya pagi hari cuaca cukup cerah namun batang contoh uji tidak terkena sinar matahari secara langsung, hanya memperoleh cahaya yang terpencar oleh tajuk yang sampai dibawah pohon, yang bermanfaat untuk perkembangan jamur.
Substrat log (kayu) dibuat pada waktu musim kemarau (akhir Juli 1999) dikeringkan sampai musim kemarau berakhir (pertengahan September 1999). Kadar air kayu kering udara setelah penjemuran tercapai 44%. Kadar air setelah perendaman atau saat inokulasi 85%. Kayu tanpa pengeringan atau kayu segar pada saat inokulasi dilakukan mempunyai kadar air 125%.
Sampai saat terakhir pengamatan atau panen jamur kuping yaitu 13 Nopember 1999, pada substrat log segar dan pada substrat log yang dikeringkan dan ditempatkan di dalam ruangan laboratorium belum ditemukan adanya pembentukan tubuh buah jamur kuping. Sebaliknya pada substrat log yang dikeringkan telah terjadi pembentukan dan perkembangan tubuh buah yang dinamis. Hifa jamur berupa benang-benang putih tumbuh disekitar lubang inokulasi 3 hari setelah inokulasi bibit. Makin lama miselium bertambah tebal dan muncul di berbagai permukaan kulit kayu dan pada bagian-bagian ujung log.
Pada hari ke-14 – 18 sudah mulai terbentuk pinhead sebagai struktur awal tubuh buah terbentuk dan pada hari ke-24 tubuh buah jamur kuping sudah cukup tua untuk dipanen yang ditandai oleh tepi tubuh buah yang terbentuk bergelombang.
Pada hari ke-14 – 18 sudah mulai terbentuk pinhead sebagai struktur awal tubuh buah terbentuk dan pada hari ke-24 tubuh buah jamur kuping sudah cukup tua untuk dipanen yang ditandai oleh tepi tubuh buah yang terbentuk bergelombang.
Produksi rata-rata per satu log dalam satu kali panen sebesar 30,63 gram. Akan tetapi bila log dikultivasi di lantai hutan produksi rata-ratanya sebesar 21,36 gram, bila dikultivasi dengan digantung di pohon produksi rata-ratanya terbesar 39,90 gram. Bila masing-masing cara-cara kultivasi tersebut ditutup dengan karung goni, maka produksi rata-ratanya yang diletakkan di lantai hutan dan digantung di pohon berturut-turut adalah 31,84 gram dan 47,26 gram.
Quimio, T.H., 1982. Physiological Consideration of Auricularia spp. hlm. 397-408 dalamTropical Mushrooms Biological Nature and Cultivation Methods (S.T. Chang and T.H. Quimio, editor). The Chinese University Press. Hong Kong.
Silverio, C.M., L.C. Vilela, F.L. Guilatco and N.B. Hernandez, 1981. Mushrooms Cultureand Enriched Composed Sawdust. NSDB, Technology Journal 6 (4) : 22-40
DAFTAR PUSTAKA
Cheng, S. and T.T. Tu., 1978. Auricularia spp. hlm. 606-625. dalam The Biology and Cultivation of Edible Mushrooms (S.T. Chang dan W.A. Hayes editor). Academic Press. New York.
Quimio, T.H., 1982. Physiological Consideration of Auricularia spp. hlm. 397-408 dalamTropical Mushrooms Biological Nature and Cultivation Methods (S.T. Chang and T.H. Quimio, editor). The Chinese University Press. Hong Kong.
Silverio, C.M., L.C. Vilela, F.L. Guilatco and N.B. Hernandez, 1981. Mushrooms Cultureand Enriched Composed Sawdust. NSDB, Technology Journal 6 (4) : 22-40
Yong, T.A. and P.C. Leong, 1983. A Guide to Cultivation of Edible Mushrooms inSingapore. Agric. Handbook
Categories:
Lain - Lain




